Kamis, 01 September 2011
Fatahillah itu bukan Syarif Hidayatullah/Sunan Gunung Jati
Sunan Gunung Jati[/b]]
Sebagaimana diketahui bahwa pernikahan Nyi Rara Santang atau Syarifah Muda’im, puteri Prabu Siliwangi yang menikah dengan Maulana Ishaq Syarif Abdillah, penguasa kota Isma’illiyah Saudi Arabia telah dikaruniai dua orang putera, yaitu Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. Sejak kanak-kanak, keduanya telah diperintahkan ayahnya agar menimba ilmu sepenuh-penuhnya dari ulama-ulama yang terkenal di Timur Tengah. Dengan demikian kemungkinan terjadi antara keduanya berlainan memilih guru mereka masing-masing. Adapun ulama-ulama terkenal yang menjadi guru Syarif Hidayatullah diantaranya Syekh Tajmudin Al Kubro dan Syekh Ataillah Syadzali. Selain ilmu agama dan ilmu sosial, mereka berdua juga belajar ilmu Tasawuf dari ulama-ulama Baghdad.
Pada saat usia Syarif Hidayatullah berusia sekitar dua puluh tahunan, ayahnya Syarif Abdillah meninggal dunia, maka sebagai putera tertua Syarif Hidayatullah ditunjuk untuk menggantikan sebagai Amir (penguasa) Kota Isma’illiyah. Akan tetapi karena Syarif Hidayatullah sudah bertekad untuk melaksanakan harapan ibunya untuk menjadi ulama di daerah ibunya yaitu di Negeri Caruban (Cirebon sekarang), maka beliau melimpahkan jabatan amir tersebut kepada adiknya, Syarif Nurullah.
Beberapa bulan setelah pengangkatan Syarif Nurullah sebagai amir kota Isma’illiyah, ibunya Syarifah Muda’im dan dan Syrif Hidayatullah pergi meninggalkannya untuk pulang ke tanah Jawa. Di Jawa tepatnya di Negeri Caruban, yang jadi penguasa saat itu adalah kakaknya ibunya yaitu Raden Walangsungsang atau biasa disebut Mbah Kuwu Cirebon atau Pangeran Cakrabuana. Maka kedatangan mereka disambut dengan meriah dan mereka berdua dipekenankan tinggal di daerah pertamanan Gunung Sembung sambil mengajarkan ajaran Islam sebagai penerus Pangguron Islam Gunung Jati. Seperti yang telah direncanakan sebelumnya, Pangeran Cakrabuana menikahkan Syarif Hidayatullah dengan puterinya, Nyi Ratu Pakungwati. Selanjutnya, pada taun 1479, karena usianya yang sudah semakin uzur, Pangeran Cakrabuana menyerahkan kekuasaannya atas Negeri Caruban kepada menantunya, Syarif Hidayatullah. Sejak saat itulah tampuk kepemimpinan penyebaran ajaran Islam di Nagari Caruban berada di pundak Syarif Hidayatullah.
Mendengar bahwa di wilayah Pajajaran, agama Islam berkembang pesat setelah Nagari Caruban dipimpin oleh seorang mubaligh dari Kota Isma’illiya Arab Saudi, yaitu Syarif Hidayatullah, maka Raden Patah yang saat itu menjadi Sultan Demak pertama bersama para mubalig lainnya yang sudah bergelar Sunan menetapkan bahwa Syarif Hidayatullah sebagai penyebar ajaran Islam di tanah Pasundan dan bergelar Sayyidin Panatagama Islam atau Sunan. Karena daerah tempat Syarif Hidayatullah menyebarkan ajaran islam di Pangguron Gunung Jati maka dia diberi gelar sebagai Sunan Gunung Jati.
Fatahillah atau Faletehan atau Kyai Fathullah atau yang biasa disebut sebagai Tubagus Pasai adalah seorang ulama dari Pasai, Aceh yang ikut mengungsi dari penjajahan Portugis di daerah Pasai tersebut. Fatahillah ini ikut dalam pasukan Dipati Unus yang pulang dari penyerangan ke Malaka melawan Portugis. Selain menyelamatkan diri dari penjajahan Portugis, kedatangannya ke Demak juga untuk ikut serta dalam membantu penyebaran agama Islam di tanah Jawa seperti yang diharapkan oleh ayahnya, Maulana Makhdar Ibrahim, ulama asal Gujarat.
Sebagai putera seorang ulama yang terbilang tinggi ilmu agama dan ilmu sosialnya, maka kehadiran Fatahillah di tengah-tengah Kesultanan Demak sebagai pusat pengembangan ajaran Islam merupakan harapan baik dalam mengemban tugas suci bersama para mubaligh lainnya yang masih ada.
Sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya bahwa Demak akan mengirim pasukannya ke Cirebon untuk bersama-sama mempertahankan Pelabuhan Sunda Kelapa dari tangan Portugis, maka oleh Raden Patah diangkatlah Fatahillah sebagai Panglima Pasukan Demak yang berangkat ke Cirebon. Dari Cirebon inilah, tentara Demak bersama-sama tentara dari Cirebon menuju Sunda Kelapa tetap dibawah pimpinan Fatahillah. Kenyataannya sampai disana pasukan Fatahillah tidak hanya berhadapan dengan Portugis, tapi juga berhadapan dengan pasukan Pajajaran. Namun demukian pada akhirnya pasukan Pajajaran dan Portugis dapat dipukul mundur dan Portugis pun terusir dari Sunda Kelapa pada tahun 1522. Oleh Fatahillah nama Sunda Kelapa diganti menjadi Jayakarta (sekarang Jakarta). Atas keberhasilannya tersebut, Fatahillah diberi amanah untuk memimpin Sunda Kelapa.
Akan tetapi karena keinginannya untuk menetap di Cirebon dan penggilan untuk memimpin pasukan dalam penyebaran agama Islam di beberapa daerah, maka sebagai pemimpin di Sunda Kelapa hanya beberapa bulan saja dan kepemimpinannya itu diserahkan kepada Ki Bagus Angke (Tubagus Angke) sebagai Bupati Jayakarta. Sejak saat itu Fatahillah bergelar Kyai Bagus Pasai. Sepulangnya dari penaklukan beberapa daerah ke Cirebon, oleh Sunan Gunung Jati, Fatahillah dinikahkan dengan puterinya Ratu Wulung Ayu. Fatahillah wafat dua tahun setelah wafatnya Sunan Gunung Jati yaitu pada tahun 1570 dan dimakamkan tepat disamping makam Sunan Gunung Jati.
Satu hal yang sangat disayangkan adalah bahwa untuk dibuktikan kebenarannya kita bisa membuktikan bahwa Fatahillah adalah bukan Sunan Gunung Jati/Syarif Hidayatullah adalah dengan adanya makam Fatahillah/Tubagus Pasai disamping makam Syarif Hidayatullah/Sunan Gunung Jati. Pihak yang berwenang di komplek pemakaman itu tidak mengizinkan sembarang orang untuk memasukinya, melainkan harus ada izin tertulis yang menandakan bahwa seseorang itu mempunyai garis keturunan ke atasnya sampai kepada Sunan Gunung Jati/Syarif Hidayatullah.
sumber:
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=9807890
Sebagaimana diketahui bahwa pernikahan Nyi Rara Santang atau Syarifah Muda’im, puteri Prabu Siliwangi yang menikah dengan Maulana Ishaq Syarif Abdillah, penguasa kota Isma’illiyah Saudi Arabia telah dikaruniai dua orang putera, yaitu Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. Sejak kanak-kanak, keduanya telah diperintahkan ayahnya agar menimba ilmu sepenuh-penuhnya dari ulama-ulama yang terkenal di Timur Tengah. Dengan demikian kemungkinan terjadi antara keduanya berlainan memilih guru mereka masing-masing. Adapun ulama-ulama terkenal yang menjadi guru Syarif Hidayatullah diantaranya Syekh Tajmudin Al Kubro dan Syekh Ataillah Syadzali. Selain ilmu agama dan ilmu sosial, mereka berdua juga belajar ilmu Tasawuf dari ulama-ulama Baghdad.
Pada saat usia Syarif Hidayatullah berusia sekitar dua puluh tahunan, ayahnya Syarif Abdillah meninggal dunia, maka sebagai putera tertua Syarif Hidayatullah ditunjuk untuk menggantikan sebagai Amir (penguasa) Kota Isma’illiyah. Akan tetapi karena Syarif Hidayatullah sudah bertekad untuk melaksanakan harapan ibunya untuk menjadi ulama di daerah ibunya yaitu di Negeri Caruban (Cirebon sekarang), maka beliau melimpahkan jabatan amir tersebut kepada adiknya, Syarif Nurullah.
Beberapa bulan setelah pengangkatan Syarif Nurullah sebagai amir kota Isma’illiyah, ibunya Syarifah Muda’im dan dan Syrif Hidayatullah pergi meninggalkannya untuk pulang ke tanah Jawa. Di Jawa tepatnya di Negeri Caruban, yang jadi penguasa saat itu adalah kakaknya ibunya yaitu Raden Walangsungsang atau biasa disebut Mbah Kuwu Cirebon atau Pangeran Cakrabuana. Maka kedatangan mereka disambut dengan meriah dan mereka berdua dipekenankan tinggal di daerah pertamanan Gunung Sembung sambil mengajarkan ajaran Islam sebagai penerus Pangguron Islam Gunung Jati. Seperti yang telah direncanakan sebelumnya, Pangeran Cakrabuana menikahkan Syarif Hidayatullah dengan puterinya, Nyi Ratu Pakungwati. Selanjutnya, pada taun 1479, karena usianya yang sudah semakin uzur, Pangeran Cakrabuana menyerahkan kekuasaannya atas Negeri Caruban kepada menantunya, Syarif Hidayatullah. Sejak saat itulah tampuk kepemimpinan penyebaran ajaran Islam di Nagari Caruban berada di pundak Syarif Hidayatullah.
Mendengar bahwa di wilayah Pajajaran, agama Islam berkembang pesat setelah Nagari Caruban dipimpin oleh seorang mubaligh dari Kota Isma’illiya Arab Saudi, yaitu Syarif Hidayatullah, maka Raden Patah yang saat itu menjadi Sultan Demak pertama bersama para mubalig lainnya yang sudah bergelar Sunan menetapkan bahwa Syarif Hidayatullah sebagai penyebar ajaran Islam di tanah Pasundan dan bergelar Sayyidin Panatagama Islam atau Sunan. Karena daerah tempat Syarif Hidayatullah menyebarkan ajaran islam di Pangguron Gunung Jati maka dia diberi gelar sebagai Sunan Gunung Jati.
Fatahillah atau Faletehan atau Kyai Fathullah atau yang biasa disebut sebagai Tubagus Pasai adalah seorang ulama dari Pasai, Aceh yang ikut mengungsi dari penjajahan Portugis di daerah Pasai tersebut. Fatahillah ini ikut dalam pasukan Dipati Unus yang pulang dari penyerangan ke Malaka melawan Portugis. Selain menyelamatkan diri dari penjajahan Portugis, kedatangannya ke Demak juga untuk ikut serta dalam membantu penyebaran agama Islam di tanah Jawa seperti yang diharapkan oleh ayahnya, Maulana Makhdar Ibrahim, ulama asal Gujarat.
Sebagai putera seorang ulama yang terbilang tinggi ilmu agama dan ilmu sosialnya, maka kehadiran Fatahillah di tengah-tengah Kesultanan Demak sebagai pusat pengembangan ajaran Islam merupakan harapan baik dalam mengemban tugas suci bersama para mubaligh lainnya yang masih ada.
Sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya bahwa Demak akan mengirim pasukannya ke Cirebon untuk bersama-sama mempertahankan Pelabuhan Sunda Kelapa dari tangan Portugis, maka oleh Raden Patah diangkatlah Fatahillah sebagai Panglima Pasukan Demak yang berangkat ke Cirebon. Dari Cirebon inilah, tentara Demak bersama-sama tentara dari Cirebon menuju Sunda Kelapa tetap dibawah pimpinan Fatahillah. Kenyataannya sampai disana pasukan Fatahillah tidak hanya berhadapan dengan Portugis, tapi juga berhadapan dengan pasukan Pajajaran. Namun demukian pada akhirnya pasukan Pajajaran dan Portugis dapat dipukul mundur dan Portugis pun terusir dari Sunda Kelapa pada tahun 1522. Oleh Fatahillah nama Sunda Kelapa diganti menjadi Jayakarta (sekarang Jakarta). Atas keberhasilannya tersebut, Fatahillah diberi amanah untuk memimpin Sunda Kelapa.
Akan tetapi karena keinginannya untuk menetap di Cirebon dan penggilan untuk memimpin pasukan dalam penyebaran agama Islam di beberapa daerah, maka sebagai pemimpin di Sunda Kelapa hanya beberapa bulan saja dan kepemimpinannya itu diserahkan kepada Ki Bagus Angke (Tubagus Angke) sebagai Bupati Jayakarta. Sejak saat itu Fatahillah bergelar Kyai Bagus Pasai. Sepulangnya dari penaklukan beberapa daerah ke Cirebon, oleh Sunan Gunung Jati, Fatahillah dinikahkan dengan puterinya Ratu Wulung Ayu. Fatahillah wafat dua tahun setelah wafatnya Sunan Gunung Jati yaitu pada tahun 1570 dan dimakamkan tepat disamping makam Sunan Gunung Jati.
Satu hal yang sangat disayangkan adalah bahwa untuk dibuktikan kebenarannya kita bisa membuktikan bahwa Fatahillah adalah bukan Sunan Gunung Jati/Syarif Hidayatullah adalah dengan adanya makam Fatahillah/Tubagus Pasai disamping makam Syarif Hidayatullah/Sunan Gunung Jati. Pihak yang berwenang di komplek pemakaman itu tidak mengizinkan sembarang orang untuk memasukinya, melainkan harus ada izin tertulis yang menandakan bahwa seseorang itu mempunyai garis keturunan ke atasnya sampai kepada Sunan Gunung Jati/Syarif Hidayatullah.
sumber:
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=9807890
Langganan:
Postingan (Atom)